Focus NTB
HEADLINE NASIONAL NEWS

BNPB Ingatkan Masyarakat Nusa Tenggara dan Bali, Waspada Gempa 8,8 Magnitudo

FocusNTB, Denpasar — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat Nusa Tenggara dan Bali agar tetap mewaspadai ancaman potensi gempa hingga 8,8 magnitudo yang berpusat di selatan Pulau Bali dan Nusa Tenggara.

Masyarakat diharapkan untuk mewaspadai ancaman gempa dibagian selatan Bali karena diwilayah Bali ada beberapa Zona yang tidak ada gempanya sehingga ada potensi di Selatan Bali dan Nusa Tenggara dengan potensi 8,8 magnitudo.

“ Masyarakat harus waspada, karena ada potensi selatan Bali dan Nusa Tenggara dengan potensi 8,8 magnitudo. Sehingga hal tersebut harus diwaspadai, sebab gempa magnitudo 5 sampai 6 di selatan Bali sudah beberapa kali terjadi,” kata Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Dr Aam Abdul Muhari dalam rapat kerja yang dipimpin oleh Kepala BNPB Doni Monardo dengan Gubernur Bali, di Denpasar, Jumat (9/10).

Aam menyampaikan, jika gempa itu terjadi, maka dampaknya akan sangat parah terjadi di daerah Nusa Dua dan Kuta, Kabupaten Badung, dan Sanur, Kota Denpasar.

“ Kami ingatkan demikian, karena Bali ada lehernya di sebelah selatan dan lehernya bisa terendam dari sisi kiri dan kanan. Dengan tinggi tsunami di darat sekitar 4 hingga 15 meter,” bebernya.

Apalagi di kawasan Kabupaten Badung banyak jalan yang tegak lurus pantai dan jalan ini dikelilingi rumah, sehingga ketika air tsunami masuk ke jalan itu maka gerakannya akan lebih cepat.

Kemudian, selain potensi gempa dari selatan Bali, Aam mengatakan Bali juga memiliki ancaman terkena imbas gempa yang dahsyat dari segmen Jawa Barat dan selatan Jawa Timur. “Kalau itu pecah secara bersamaan, potensi magnitudo gempanya bisa 9,1, seperti halnya gempa di Aceh Tahun 2004,” ucapnya.

READ  Ucapan Selamat Kepala Dinas Kelautan Sumbawa Barat

Masih keterangan Aan, lanjut dia, Bali efek gelombangnya diprediksi akan sampai dalam waktu 30-40 menit, sehingga waktu sekianlah kesempatan yang dimiliki untuk melakukan evakuasi.

“Jadi penting untuk paham sekiranya merasakan gempa lebih dari 20 detik, maka kita harus evakuasi. Biasanya jika gempa tidak diiringi tsunami itu pelepasan gempanya kurang dari 10 detik. Kalau gempa terus hingga 20 detik itu hampir pasti diiringi tsunami,” ulas Aam.

Ia menambahkan, dengan melihat kondisi populasi penduduk yang sudah padat di kawasan selatan Pulau Bali, maka tempat evakuasi harus banyak, mudah diakses dan kelihatan.

“Karena ketika gempa terjadi siang hari, lampu lalu lintas pasti tidak nyala sehingga akan menimbulkan kemacetan dan tidak bisa melakukan evakuasi. Kalau pengalaman di Jepang, di setiap perempatan ada jembatan penyeberangan yang dijadikan tempat evakuasi sementara, sehingga ketika ada kemacetan, bisa naik ke jembatan penyeberangan tersebut,” katanya.

Senada dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus diingatkan selalu pada masyarakat.

“ Kita harus mengakui, Suka tidak suka, senang tidak senang, negara kita memiliki ancaman risiko bencana tertinggi di dunia,” tuturnya.

Walau demikian, dengan ancaman risiko bencana tertinggi, Doni mengatakan kekayaan flora dan fauna serta keindahan alam Indonesia sangat luar biasa dan berlimpah yang tentu harus disyukuri. (FN-If)

Related posts

Bupati KSB Buka Pelatihan Tata Kelola Destinasi Wisata

Redaksi FocusNTB

Bupati KSB jadi Narasumber Diskusi Panel Kegiatan SNV Wash Forum

Redaksi FocusNTB

Ma’ruf Amin Minta Ulama Bantu Jaga Umat Kala Pandemi Covid-19

Redaksi FocusNTB

Leave a Comment