Focus NTB
HEADLINE NEWS SUMBAWA

Pembangunan Kokoh, Bendungan Bintang Bano di KSB Menunggu Diresmikan Presiden Jokowi

FOTO. Pembangun Bendungan Bintang Bano Sudah Rampung dan Bediri Kokoh di Kabupaten Sumbawa Barat

“Bendungan Bintang Bano Kabupaten Sumbawa Barat adalah saksi dari kebersinambungan program pemerintah pusat serta keseriusan pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) untuk mewujudkan Kabupaten Pariri Lema Bariri, menuju KSB baik bernafaskan gotong royong”

FocusNTB, Sumbawa Barat — Bendungan Bintang Bano terletak di Desa Bangkat Monteh, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sudah berdiri kokoh dan tinggal menunggu diresmikan Presiden Republik Indonesia yang dijadwalkan akhir bulan Desember ini.

Bendungan kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Barat khususnya Kabupaten Sumbawa Barat adalah saksi dari kebersinambungan program pemerintah serta keseriusan pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) untuk mewujudkan Kabupaten Pariri Lema Bariri, menuju KSB baik bernafaskan gotong royong.

Kehadiran Bendungan Bintang Bano tersebut mampu mengurangi banjir di wilayah Kabupaten Sumbawa Barat. Baru – baru ini akibat intensitas hujan yang tinggi dalam berapa hari terakhir di Kabupaten Sumbawa Barat, membuat Daerah Aliran Sungai mengalami luapan di atas ambang normal, hal ini membuat beberapa masyarakat berspekulasi bahwa luapan sungai diatas ambang normal diakibatkan dari dugaan akibat rembesan air dari bendungan Bintang Bano mengalami rembesan kebocoran serta bentangan bendungan yang diduga mengalami keretakan.

Untuk membuktikan Spekulasi atas isu yang berkembang tersebut, Tim media melakukan investigasi ke Bendungan Bintang Bano yang didampingi dari Konsultan Pengawas supervisi dari PT. Indra Karya (Persero) pada, Sabtu (04/12/2021).

Dari hasil investigasi tersebut, tidak ditemukan adanya rembesan air maupun keretakan di bentangan Bendungan seperti yang diisukan tersebut, akan tetapi justru dengan kehadiran Bendungan Bintang Bano yang berada di wilayah Bakat Monteh tersebut, mampu mengurangi banjir Taliwang sebesar 22%.

READ  Benny Tanaya : KSB Akan Jadi Kabupaten Pertama di Indonesia Menuntaskan 5 Pilar STBM

Sementara Mursim ST selaku Konsultan Supervisi Bendungan Bintang Bano dari PT INDRA KARYA (Persero) kepada tim Media, terkait isu yang berkembang tersebut menjelaskan, bahwa debit air yang masuk ke tampungan bendungan bintang bano cukup besar sampai pada posisi elevasi 114,40 m sehingga pengisiannya hampir mencapai 87,46% dari volume tampungan sebesar 69,31 juta m3. Untuk menghindari pengisian awal waduk yang terlalu cepat, maka muka air waduk harus diturunkan secara bertahap mengikuti tahapan penjenuhan Bendungan,” kata Mursim.

Mengapa harus menggunakan metode pengisian penjenuhan melalui tahapan, Mursim menjelaskan , dikarenakan kondisi awal pengisian, kenaikan muka air Waduk tidak boleh terlalu cepat, sehingga antisipasi spontanitas kenaikan muka air waduk dilakukan dengan melepas air waduk yaitu membuka pintu Spillway 1 dan 2 sesuai prosedur yang sudah ditentukan terhadap muka air makximum, dari kondisi tersebut dan untuk keamanan bendungan dilakukan pembukaan pintu Spillway secara bertahap pada malam itu sambil melakukan pemantauan di sepanjang aliran sungai Brang Rea khususnya kota Taliwang, pada saat itu air yang kita keluarkan sekitar 175 m3/dt, aturan sebenarnya yang diijinkan pelepasan air waduk maksimum 200 m3/dt,” Urai Mursim.

Menurutnya, dengan kondisi hujan yang terus menerus, apalagi di seputaran Taliwang juga mendung , pihaknya mencoba melepas air Waduk dengan membuka pintu Spillay sebesar 1.25 m dan terlihat diarea aliran sungai, sisa permukaan bronjong di Sungai Taliwang tersisa 3 trap, sehingga ditetapkan bukaan pintu tersebut sambil memantau aliran sungai hilir bendungan bersama tim yang ada dan kesimpulannya kota Taliwang aman dari banjir,” Katanya.

Intinya, dibukanya pintu Spillway bendungan bintang bano benar – benar dilakukan pemantauan secara kontinyu pengaruhnya seperti apa, kondisinya seperti apa, apakah ada dampak banjir atau tidak, karena pada prinsifnya dengan kehadiran bintang bano jangan lagi terjadi banjir.
Untuk diketahui, Bendungan Bintang Bano berjarak kurang lebih 35 Km dari Kota Taliwang dan kurang lebih 7 km dihulu Bendung Kalimantong II. Bendungan ini dibangun dalam dua tahap, dimana tahap I dilaksanakan pada tahun 2015 sampai tahun 2019 dan tahap II pada tahun 2020 hingga 2021.

READ  Jadi Paskibraka Nasional, Meri Dapat Reward Dari Pemerintah KSB

Berdasarkan kronologis kegiatan, langkah pertama yang dilakukan untuk mewujudkan pembangunan Bendungan Bintang Bano adalah Readiness Kriteria dan kontrak konstruksi diawali oleh Pemda KSB tahun 2008-2014. Kemudian dilanjutkan dengan proses hibah aset pembangunan Bendungan Bintang Bano ke Kementerian PUPR tahun 2015. Tahap ketiga adalah kontrak konstruksi pembangunan bendungan utama tahun 2015-2019 dan kontrak konstruksi pembangunan Spillway tahun 2015-2019, serta tahap keempat atau terakhir adalah kontrak penyelesaian Bendungan Bintang Bano tahun 2020-2021.

Bendungan Bintang Bano sendiri dihajatkan oleh Pemda KSB untuk pengendali banjir (reduksi banjir) Kota Taliwang, mengairi lahan irigasi, Penyediaan air baku, pembangkit listrik tenaga air serta dipergunakan kedepan sebagai obyek wisata.

Bendungan ini dirancang mampu menyuplai air untuk daerah irigasi dengan luas 6.700 Ha, penyediaan air baku dengan debit sebesar 550 liter per detik, dan mereduksi banjir sebesar 670 meter kubik per detik. Secara perhitungan, Bendungan Bintang Bano dapat mengurangi resiko banjir sebesar 22% atau 365 m3/detik.
Potongan melintang bendungan (Maindam) dirancang dengan tipe Rockfill inti tegak, elevasi puncak 120 meter, lebar puncak 12 meter, tinggi bendungan 72 meter, kemiringan lereng hulu 1/n : 1/2 25 meter, kemiringan lereng hilir 1/n : 1/1.80 meter.

Maindam dikerjakan dengan 7 zona. Tujuh Zona tersebut dirancang untuk 2 bendungan yaitu : bendungan utama dan bendungan pengelak. Secara terperinci 7 zona tersebut adalah Zona 1, inti bendungan yang dibuat dari material tanah pilihan. Zona 2, filter halus yang melindungi depan dan belakang Zona 1. Zona 3, filter kasar yang melindungi zona 2 dari depan dan belakang, Zona 4 Rock sungai. Zona 5 Rock Quarry, Zona 6 Rip-Rap dan terakhir zona 7 Random.

Dari penjelasan diatas (Maindam), dapat diilustrasikan bahwa sebelum menghantam bendungan utama, terlebih dahulu limpahan air dari berbagai sungai menyentuh random kemudian menyentuh bendungan pengelak. Sehingganya Bendungan Bintang Bano hari ini berdiri kokoh dan sangat kecil kemungkinan terjadi keretakan.

READ  Memberangus Pragmatisme Politik

Saat media ini turun ke lokasi Bendungan Bintang Bano pada, Sabtu pagi (04/12/2021), volume tampungan air waduk di bendungan Bintang Bano sebesar 52.214.646 juta m3 (68 persen) dari volume tampungan waduk normal 69.31 juta m3. Elevasi saat ini +108 meter dan elevasi muka air maksimum di elevasi +118.25 meter.

Nampak Sejumlah Awak Media Saat Turun Liputan di Lokasi Bendungan Bintang Bano

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Mursim, ST. Tenaga Ahli konstruksi non bendungan dari PT Indra Karya (Persero) di lapangan, dijelaskan bahwa proses pengisian air Bendungan Bintang Bano termasuk cukup cepat, itu disebabkan oleh debit air yang cukup besar akibat dari curah hujan yang tinggi.

Sebelum berita ini diturunkan, dilansir dari media online nasional, Jok Direktur Operasi I PT Hutama Karya (Persero) Novias Nurendra memastikan, Bendungan Bintang Bano siap diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada akhir tahun 2021.(Fn-Kief)

Related posts

Kapolres KSB Minta Warga Aktifkan Kembali Pos Kamling untuk Wujudkan Kondusifitas Jelang Pilkada

Redaksi FocusNTB

Tim Penilai: Lomba Kampung Sehat Menyadarkan Masyarakat Hidup Bersih dan Sehat

Redaksi FocusNTB

Pangdam Udayana Tinjau Food Estate Desa Talonang

Redaksi FocusNTB

Leave a Comment